Rekan Kerja Sebagai Keluarga

Keluarga tercipta bukan hanya dari ikatan darah, tapi dari pilihan untuk saling menerima dan mendukung.

Lalu, bisakah lingkungan kerja menjadi ruang di mana setiap orang – apapun latar belakangnya – merasa seperti keluarga?

Mari temukan jawabannya dalam ulasan pengalaman para peserta D’Impact Gathering 2025: Break the Limit berikut, sahabat D’Impact:

Menembus Batas Ekspektasi

Lucia Nany Lusida, founder sekaligus CEO D’Impact Indonesia, memiliki visi khusus untuk acara ini, di luar perayaan kesuksesan Perusahaan di tahun sebelumnya: “Saya menyisihkan – bukan menyisakan – dana untuk gathering ini. Tujuan acara ini untuk meningkatkan employee wellbeing dan teamwork, dan menekankan values D’Impact – integrity, compassion, courage to innovate, continuous learning dan customer-centric. Selain itu, sesuai nama kita, we need to give positive impact to others.”

Untuk itu, seperti diulas di artikel sebelumnya, beliau menugaskan Indri Agustiani, finance staff D’Impact, sebagai ketua panitia acara.

Ssentuhan Manusia: Akar Keberagaman

Istimewanya, 16 orang peserta yang mengikuti gathering ini terdiri dari beragam generasi, tingkat senioritas serta latar belakang, sahabat D’Impact. Bahkan, 4 orang di antaranya penyandang 3 jenis disabilitas yang berbeda: netra, daksa dan rungu. Namun, meski banyak peserta terkejut sekaligus senang diundang mengikuti gathering, semuanya menganggap diversity Tingkat tinggi ini sebagai sesuatu yang lumrah.

Farhathun Nadzillah (Lala), HR administrator yang baru bergabung dengan tim D’Impact selama 6 bulan, bahkan merasa senang. “Excited karena pengalaman pertama pergi bareng teman-teman disabilitas, ke tempat yang aku juga baru pertama kali kunjungin,” ujarnya.

Effendi, payroll services consultant D’Impact, menambahkan, “Senang karena kita bisa bertemu dan kenal secara langsung, dimana ada peserta yang sebelumnya hanya komunikasi secara online. Interaksi juga biasanya urusan kantor saja, dalam hal diskusi dan administrative Kantor, dalam kapasitas Rekan Kerja.”

Kekhawatiran teman-teman difabel yang sempat muncul sebelum hari-H pun lebih kepada teknis perjalanan 2 hari ini dan keinginan untuk tidak merepotkan sesama peserta. Dan, rupanya, penerimaan 2 arah ini berakar dari pertemuan-pertemuan luring yang sebelumnya pernah digelar, sahabat D’Impact.

Ignatius Herjanjam, salah satu content writer D’Impact yang juga tunanetra, mengakui, “Saya merasa lebih tenang karena selama ini atasan saya, Bu Lucia (CEO) dan Pak Santo (COO), selalu menunjukkan sikap inklusif dan peduli terhadap teman-teman disabilitas di D’Impact. Hal itu memberi saya kepercayaan diri bahwa staf lainnya juga akan mendukung dan membantu.”

Andreas Paulus, graphic designer D’Impact yang juga tunadaksa berkursi roda dan kala itu baru bergabung selama 2 bulan, menegaskan poin ini dengan menyatakan, “Waktu saya pertama rapat secara offline dengan D’Impact, saya merasakan kekeluargaan dan humbleness dari teman-teman, jadi saya tidak merasakan kekhawatiran sama sekali tentang penerimaan mereka. Justru senang ketemu teman-teman baru.”

“Gas Pol” Merayakan Keberagaman

“Selama berlangsungnya acara,” Monica Andriana, HR consultant D’Impact, bercerita, “ada rasa kebersamaan dan teamwork. Bukan hanya seperti rekan kerja, tetapi seperti keluarga, di mana ada anggota keluarga yang beragam – yang difabel, muda, laki-laki, Perempuan. Dan kekeluargaan tersebut makin memacu kita untuk saling bekerja sama, diskusi, workshop, bahkan bermain game bersama, dan melakukan semua kegiatan dengan saling tolong-menolong.”

Beliau tak sendiri menyatakan hal ini, sahabat D’Impact. Binardewi Indriani Mahalim, talent recruiter D’Impact yang juga bagian tim konsumsi dalam kepanitiaan acara, menimpali sambil tersenyum, “Teman-teman mau membantu tanpa diminta, seperti membantu packing, membantu membagikan, membantu membawa makanan, juga yang paling penting: membantu menghabiskan makanan yang sudah disediakan.”

Bahkan, di luar acara inti pun, sentimen ini terus bergulir. Andrian Setiawan, yang juga HR consultant D’Impact, mengungkapkan, “Saya menawarkan diri menginap sekamar dengan teman disabilitas karena ingin belajar dan memahami lebih dalam perspektif teman-teman disabilitas, tapi dari pengalaman langsung. Sebelumnya saya belum pernah berinteraksi secara intense dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan dengan penyandang disabilitas, jadi ini adalah kesempatan yang sangat berarti buat saya. Dan, selama 2 hari mendampingi rekan yang menggunakan kursi roda, saya banyak belajar tentang semangat, kemandirian, dan keinginan besar mereka untuk berkontribusi seperti anggota tim lainnya. Saya juga jadi lebih sadar bahwa hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele bagi kita bisa menjadi tantangan besar bagi mereka, dan di situlah empati dan dukungan kita sangat dibutuhkan. Pengalaman ini membuka mata dan hati saya.”

Perihal ini, Lala menambahkan, “Dulu ada tetangga di rumah lamaku yang kebetulan penyandang tunarungu. Tapi untuk satu kamar dengan teman tunarungu, pastinya ini momen pertama yang aku rasain. Awalnya rasanya deg-degan karena takut ga bisa interaksi di kamar, takut jadinya diam-diaman. Tapi ternyata nggak, aku tetap interaksi dengan teman tersebut sama seperti dengan teman-teman yang lain, hanya saja caranya berbeda: lebih banyak dengan gerakan dan juga artikulasi mulut.”

Nah, setelah membangun kebersamaan internal, bagaimana tim ini melanjutkan misi memberi dampak bagi masyarakat? Apa saja hal yang bisa diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari selepas gathering? Mari simak di artikel selanjutnya, sahabat D’Impact!