Pelajaran dari Pengalaman Langsung

Sahabat D’Impact, pelajaran terbaik seringkali datang dari tempat yang tak terduga dan baru benar-benar dipahami ketika dijalani.

Kadang, yang direncanakan sebagai aksi memberi pun menjadi ruang menerima.

Inilah yang dialami tim D’Impact dalam company gathering mereka di Bali, pertengahan April 2025, saat terlibat dalam social impact activity.

Lebih dari sekadar diskusi dan quality time, kegiatan ini dirancang untuk memperluas lingkaran kebersamaan dengan masyarakat sekitar. Dan, seperti pengalaman sebelumnya Bersama rekan-rekan disabilitas, momen ini kembali mengajarkan bahwa realita di lapangan seringkali berbeda dengan asumsi.

Lalu, pelajaran berharga apa saja yang berhasil mereka petik kali ini? Mari kita temukan bersama dalam ulasan berikut, sahabat D’Impact.

Mematahkan Asumsi, Menyentuh Hati

Dalam social impact activity, para peserta diminta memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di seputar Lokasi gathering, termasuk dana jika diperlukan.

Sebelum hari-H, dan bahkan pada awal acara, banyak peserta – yang terbagi ke dalam 2 kelompok – yang ragu, sahabat D’Impact. “Memangnya ada ya orang yang perlu dibantu di obyek wisata seterkenal itu?” mereka saling bertanya. “Mungkin ada, tapi harus ke pelosok-pelosok pemukiman – apa waktu kita cukup?”

“Pasti ada,” Lucia Nany Lusida, CEO D’Impact Indonesia, penggagas acara yang juga tergabung di Grup 1, menyemangati. “Kita beli aja nasi jualannya ibu itu, lalu kita bagi-bagikan ke orang-orang yang memerlukan.”

Ibu yang dimaksud adalah seorang pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar di dekat hotel tempat peserta menginap, sahabat D’Impact. Wahyuni Widiyastuti (Yuni), yang sehari-harinya salah satu HR consultant D’Impact, bercerita bahwa beliau sediahati mengobrol dengan para peserta yang ingin tahu tentang kehidupan beliau sehari-hari, sementara mengemas makanan yang dipesan. Dan, dari kisah perjuangan beliau sebagai single mother yang masih harus membiayai rumah kontrakan serta memodali dagangan, terpantiklah gagasan untuk membantu memodali dagangan beliau esok hari.

“Kami tersentuh dengan keadaan beliau, berjuang mencari nafkah untuk keluarga,” ungkapnya kemudian. “Kami sangat senang melihat raut muka beliau yang sangat bahagia menerima rezeki dari kami. Beliau bahkan tidak menyangka akan menerima bantuan seperti ini.”

“Saya kira beliau mau memanfaatkan kesempatan ini,” Effendi, payroll services consultant D’Impact, peserta yang memboyong ibu pedagang nasi tersebut ke minimarket untuk membeli kebutuhan dagangannya, mengakui. “Ternyata ibunya nolak terus pas disodori barang-barang lain. Katanya, ‘Sudah cukup, ini sudah cukup, terima kasih banyak.’ Padahal sudah diyakin-yakinkan, ‘Gapapa, ini untuk keperluan Ibu sehari-hari juga kan. Kami betul mau bantu kok.’ Setelah dirayu-rayu baru mau ambil odol sama sabun cuci.”

Hikmahnya? “Nilai pengeluaran belanjanya tidak besar, tapi memberikan nilai yang sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan,” refleksi Yuni.

Tak hanya itu saja, sahabat D’Impact, sekelompok peserta ini pun belajar bahwa positive impact tercipta bukan ketika kita memberi apa yang kita mau, tapi ketika kita memahami apa makna pemberian tersebut bagi penerima. Dan hal itu selalu dimulai dengan kesediaan untuk turun, melihat, serta – yang paling sulit – melepaskan asumsi.

Memantik semangat dengan Semangat

Sahabat D’Impact, ada pepatah, “Jika ingin mengubah dunia, ubahlah dirimu sendiri dulu.”

Grup 2 mengadaptasikannya menjadi, “Jika kamu ingin menyemangati orang lain, tunjukkanlah semangatmu terlebih dahulu.”

Karena itu, Ketika berhadapan dengan Pantai yang penuh sampah dan waktu acara yang hanya 1 jam, mereka berinisiatif untuk membagi tugas: 1 kelompok membersihkann Pantai, sementara yang lain mengajak warga sekitar untuk turut serta.

Ignatius Herjanjam (Ignas), content writer D’Impact yang juga penyandang disabilitas netra, adalah salah satu peserta yang bertugas membersihkan sampah di Pantai, ditemani dan diarahkan Susanto, COO D’Impact. Sepasang petugas pembersih sampah dadakan ini tertawa geli saat Ignas bercerita, “Saya sempat salah mungut sampah. Saya pikir sampah, ternyata batang kayu! Tapi seru, nyari-nyari pakai tongkat lalu rabah-rabah pakai tangan.”

Sementara itu, peserta yang bertugas mengajak warga sekitar berkutat dengan asumsi yang terpatahkan secara beruntun, sahabat D’Impact.

Krishni Syawinaya, business development specialist D’Impact, membeberkan, “Saat itu kita melihat ada pembersih Pantai di situ. Mereka lagi duduk-duduk istirahat. Terus kita ajak. Awalnya kita ngomong kita punya gerakan untuk membersihkan pantai.”

“Pertama kali approach nggak dapat orang. ‘Nggak, ini lagi istirahat, nggak lagi ingin bersih-bersih,’ katanya. Ya agak panik juga rasanya,” Monica Andriana, HR consultant D’Impact, melanjutkan. “Aku pikir kan kita datangin atas nama sesuatu yang menyenangkan, sudah ada contohnya juga, dengan begitu orang akan dengan ber-positive thinking menerima kita. Ternyata ada penolakan seperti itu.”

“Awalnya yang akhirnya mau ikut cuma 2 orang,” sambung Robbyantama Kardono, yang juga HR consultant D’Impact. “Lalu makin ke pantai, makin banyak yang ikut, sampai 10 orang. Akhirnya Bu Mon (Monica Andriana) berinisiatif untuk mengadakan lomba.”

“Kami panik,” Binardewi Indriani Mahalim, talent recruiter D’Impact, mengakui, menjelaskan maksud lomba tersebut. “Kirain dikit. Ternyata peminatnya banyak. Takut juga hadiahnya nggak cukup.”

Melalui wawancara singkat yang diadakan di akhir acara, terkuaklah bahwa semangat yang terpantik ini berakar dari Hasrat agar Pantai bisa bersih dan ramai Kembali, sehingga perekonomian warga sekitar pun membaik. Berbekal Hasrat ini, mereka bahkan terus melanjutkan kegiatan seusai acara, sesuatu yang membuat tim D’Impact yang hendak Kembali ke tempat menginap terkejut sekaligus kagum.

Bagi Grup 2 sendiri, pengalaman ini mengajarkan bahwa, Ketika kita memiliki keselarasan niat, tujuan dan prinsip, tantangan sesulit dan deadline seketat apa pun dapat terlampaui.

Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa, jika kita membuka diri, siapa pun di mana pun, bahkan di luar lingkungan kerja sekalipun, dapat menjadi guru professional growth.

Salam sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *