
Penulis: Patrisia A. Pantouw
Editor: Melissa Puspa Chandra
Banyak orang menganggap gangguan mental sebagai akhir dari segalanya. Namun tidak demikian halnya bagi Haniel Victor Jayaputra, pemilik Hanponic Farm – usaha hidroponik yang justru ia cetuskan dan kembangkan usai mengalami gangguan mental hebat.
Bagaimanakah perjalanan Haniel sampai sukses? Simak di artikel ini, sahabat D’Impact.
Hanponic Farm: Hasil Ilmu dari Pelatihan di Rumah Sakit Jiwa
Saat duduk di bangku SD, Haniel mengalami halusinasi. Gangguan ini kambuh ketika ia bersekolah di SMK akibat perundungan.
Saat menjalani pemulihan di Instalasi Rehabilitasi Psikososial di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Bogor, Haniel dilatih bercocok tanam hidroponik. Ilmu yang ia dapat dari pelatihan tersebut ia bawa pulang.
Pada tahun 2020, dengan izin orang tua, ia membeli rak bekas dan memulai Hanponic Farm di teras rumah. Berbekal motto “Jangan menyerah, tetap berusaha,” kini usahanya memiliki greenhouse sendiri dengan 6 rak, memproduksi pakcoy, kangkung dan bayam.
Produk Sayur dengan Nilai FRESH
Yang menarik, Haniel menerapkan nilai-nilai yang sejalan dengan kesejahteraan psikologis dirinya di tempat kerja, sahabat D’Impact. Ia menamakannya FRESH, singkatan dari Fairness , Responsibility, Empathy, Stability dan Honesty.
1. Fairness (Keadilan)
Setiap anggota tim Hanponic Farm mendapat pembagian tugas dan wewenang yang proporsional serta adil berdasarkan kemampuan masing-masing. Mereka juga menerima imbalan yang sesuai dari perusahaan.
2. Responsibility (Tanggung-Jawab)
Seluruh pekerja Hanponic Farm wajib mempertanggungjawabkan segala tindakan dan keputusan selama menjalankan peran profesional mereka, sehingga usaha ini dapat berjalan secara berkesinambungan.
3. Empathy (Empati)
Setiap individu dalam lingkungan Hanponic Farm diharapkan mampu merasakan serta memahami kondisi pimpinan, rekan kerja dan pelanggan agar dapat memberikan respons secara bijak dan sesuai situasi. Haniel sendiri berpendapat, “Di mana ada empati, di situ ada kehidupan yang baik.”
4. Stability (Stabilitas)
Pekerja harus menjaga kestabilan emosi lewat ucapan dan perilaku sehari-hari mereka, sehingga kelancaran operasional Hanponic Farm tidak terganggu. Haniel bahkan percaya bahwa stabilitas emosi adalah salah satu kunci mengatasi tantangan yang ada seperti kapasitas produksi yang belum mencukupi, karena ia mengalami sendiri bagaimana ketidakstabilan bisa mempengaruhi kinerja dan relasi.
5. Honesty (Kejujuran)
Tanpa kejujuran dari seluruh anggota tim, keempat nilai di atas tidak akan berarti apa pun. Kejujuran bagi Haniel merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan usahanya ini.
Ia sadar bahwa lingkungan kerja yang adil, stabil, bertanggungjawab, penuh empati dan berprinsip kejujuran tidak hanya baik untuk bisnis tapi juga untuk kesehatan mental seluruh pekerja – dan, pada akhirnya, kesehatan mental yang baik akan berbuah bisnis yang baik pula.
Tuhan Berikan Cobaan, Haniel Jadikan Ladang Sayur
Haniel memandang gangguan kesehatan mental yang ia alami sebagai bagian dari proses, bukan akhir dari segalanya. Baginya, Hanponic Farm adalah cermin dari pandangan itu: Masa-masa sulit justru bisa melahirkan sesuatu yang produktif dan memberi manfaat bagi orang lain.
Hingga kini, Haniel menjalani terapi dan rutin minum obat dari salah satu dokter ahli jiwa. Kondisinya sudah jauh lebih stabil, dan ia mampu menjalankan – bahkan memajukan – bisnisnya.
Sahabat D’Impact, kisah Haniel mengingatkan bahwa kesejahteraan psikologis bukanlah ketiadaan gangguan, melainkan kemampuan untuk beradaptasi, menemukan makna, dan membangun lingkungan yang mendukung.