Leading with Heart

Penulis: Ignatius Herjanjam

Editor: Melissa Puspa Chandra

Sahabat D’Impact, di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang kerap memicu kecemasan dan stres di berbagai generasi pekerja, pendekatan kepemimpinan konvensional yang berorientasi pada kendali penuh (command and control) dinilai semakin kurang relevan. Menjawab tantangan tersebut, D’Impact menyelenggarakan forum kepemimpinan bertajuk “Leading with Heart: Driving Performance Through People”, di Jakarta, Kamis, 7 Mei lalu.

Melalui forum ini, para peserta diajak memahami bahwa memimpin dengan hati bukanlah bentuk kelonggaran terhadap standar kerja, melainkan pendekatan kepemimpinan yang dapat membantu mendorong kinerja individu, produktivitas tim, dan keberlanjutan organisasi. Simak selengkapnya pada ulasan berikut.

Membangun Inklusivitas dan Belajar Mendengar dengan Hati

Acara dibuka dengan pemaparan dari Aria Indrawati, perwakilan Yayasan Mitra Netra. Dalam presentasinya, Aria menekankan pentingnya membangun Indonesia yang lebih inklusif melalui pendidikan yang berkualitas dan perluasan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas netra.

Melalui program diversifikasi peluang kerja yang telah dijalankan selama 26 tahun, penyandang disabilitas netra kini memiliki kesempatan berkarya di berbagai bidang profesi, mulai dari diplomat, ahli hukum, hingga mendukung berbagai proses bisnis di perusahaan.

Co-Founder D’Impact, Lucia Nany Lusida, menambahkan bahwa hubungan tersebut bersifat timbal balik. Ketika perusahaan membuka peluang yang lebih inklusif, rekan-rekan disabilitas juga mengajarkan para pemimpin untuk mendengarkan dengan hati, bukan sekadar mengandalkan penglihatan fisik.

Mengapa Kepemimpinan Berbasis Hati Menjadi Kebutuhan Organisasi?

Dalam paparannya, Lucia juga menjelaskan berbagai temuan dari sejumlah riset internasional mengenai dampak heart-centered leadership terhadap pertumbuhan organisasi. Investasi pada empati, kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan psychological safety disebut berpotensi mendorong pertumbuhan organisasi hingga 71%.

Selain itu, karyawan yang dipimpin dengan pendekatan yang lebih manusiawi menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 23%. Pendekatan ini juga dikaitkan dengan penurunan angka turnover atau attrition hingga 51%, sehingga berpotensi membantu perusahaan menghemat biaya yang timbul akibat tingginya pergantian karyawan.

Transformasi Kepemimpinan: Dari Kesadaran Diri hingga Membangun Kepercayaan

Setelah sesi pemaparan, forum dilanjutkan dengan sesi talk show yang dipandu oleh Coach Mediko Azwar. Hadir sebagai narasumber Ellen Roring Twaidan, Chief HR Officer Sinarmas Land, dan Kannya Fitrie Kusumaningtyas, Head of Corporate Culture IFG.

Dalam sesi tersebut, para narasumber berbagi pengalaman mengenai tantangan membangun budaya kerja yang sehat, memperkuat keterikatan karyawan, serta memimpin tim yang terdiri dari individu dengan karakter, latar belakang, dan cara kerja yang beragam.

Mengenai hal ini, Ellen merefleksikan pentingnya membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan tim, setelah sebelumnya sempat sangat berfokus pada pencapaian target kerja semata. Menurutnya, keberanian untuk terbuka merupakan fondasi penting bagi seorang pemimpin.

“Saat seorang pemimpin berani mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus, hal itu tidak membuatnya terlihat lemah. Sebaliknya, hal tersebut dapat membangun kepercayaan dan kedekatan yang lebih kuat dengan tim,” ujarnya.

Ellen juga mengingatkan pentingnya menghindari pelabelan negatif terhadap generasi tertentu, termasuk Gen Z, karena setiap individu memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda.

Sementara itu, Kannya menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih personal dalam memimpin. Menurutnya, setiap individu memiliki cara kerja yang unik sehingga membutuhkan ruang dan fleksibilitas yang berbeda untuk dapat memberikan kontribusi terbaik.

“Kita perlu memahami apa yang memotivasi setiap individu. Ketika pemimpin mampu membangun kedekatan dan komunikasi yang lebih terbuka, karyawan akan merasa lebih nyaman untuk berkembang dan memberikan hasil terbaik,” tandasnya.

Kannya juga menekankan pentingnya mengurangi hambatan komunikasi antartingkat dalam organisasi agar tercipta hubungan kerja yang lebih terbuka dan kolaboratif.

4 Pilar Utama Penerapan Leading with Heart

Sebagai penutup sesi, Coach I Made Harta Wijaya, Professional Certified Coach ICF, merangkum implementasi leading with heart ke dalam empat pilar utama yang dapat diterapkan oleh para pemimpin:

 1. Self-Awareness (Kesadaran Diri): Kemampuan mengenali ego, pola emosional, serta mengelola respons terhadap tekanan sehingga emosi tidak mendominasi proses pengambilan keputusan.

 2. Empathy in Action (Empati dalam Tindakan): Kemampuan melakukan active listening untuk memahami situasi dan kebutuhan anggota tim sebelum memberikan penilaian atau mengambil kesimpulan.

 3. Accountability (Akuntabilitas): Memimpin dengan hati tidak berarti menurunkan standar kerja. Akuntabilitas menuntut keberanian untuk melakukan difficult conversation ketika diperlukan demi menjaga kualitas kinerja organisasi.

 4. Psychological Safety (Keamanan Psikologis): Menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap individu untuk menyampaikan pendapat, mengemukakan ide, dan belajar dari kesalahan tanpa rasa takut.

Melalui penerapan keempat pilar tersebut, organisasi berpotensi membangun budaya kerja yang lebih sehat, memperkuat rasa percaya (trust), serta menciptakan fondasi yang mendukung kinerja berkelanjutan.

Pada akhirnya, forum ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya berfokus pada pencapaian target, tetapi juga pada kemampuan memahami manusia yang berada di balik setiap proses bisnis. Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, kemampuan memimpin dengan hati menjadi salah satu kompetensi penting yang dapat membantu organisasi tetap adaptif, relevan, dan bertumbuh secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *