
Penulis: Ignatius Herjanjam
Editor: Melissa Puspa Chandra
Banyak yang mengira bahwa kesejahteraan atau wellbeing hanya soal materi. Padahal, dalam dunia kerja modern, wellbeing mencakup aspek yang lebih dalam: rasa dihargai, ruang untuk berkembang, serta hubungan antarmanusia yang sehat di lingkungan kerja. Ketika semua itu hadir, karyawan tidak sekadar datang demi gaji, tapi merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sahabat D’Impact, hal ini bukan sekadar teori atau cerita tetapi juga kenyataan bagi Anthony Agung Prasetio, seorang eksekutif yang telah malang-melintang di 5 perusahaan besar nasional dengan jabatan mulai dari asisten manajer hingga direktur pemasaran, dan kini memimpin perusahaan yang dipercayakan oleh investor kepadanya.
Bagaimana cara ia mempraktikkannya? Mari simak dalam artikel berikut.
Menjadi Rumah bagi Semua
Dalam praktik kepemimpinannya di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya, Anthony menolak membeda-bedakan karyawan. Baginya, entah itu office boy, staf kontrak, atau manajer tetap, semuanya punya kontribusi penting. “Mereka semua bagian dari rumah bersama ini,” ujar pria yang hobi membaca dan bernyanyi ini.
Selain itu, ia pun selalu berusaha membangun kebersamaan antarkaryawan lewat kegiatan makan bersama sebulan sekali, jalan-jalan tim, dan forum curhat informal yang terbuka. Beberapa kegiatan tersebut dianggarkan secara resmi oleh perusahaan, namun tak jarang Anthony merogoh koceknya sendiri. Sebab, baginya, wellbeing bukan beban, tapi investasi hubungan manusia.
Selaras dengan pandangan tersebut, ia berprinsip bahwa pemimpin tidak boleh hanya duduk di balik meja. Seorang pemimpin harus sering turun langsung, mendengarkan keluhan karyawan — bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang kehidupan pribadi, mulai dari kesulitan keluarga hingga keresahan batin. “Chemistry itu tidak dibangun hanya dengan memberi perintah. Kita harus hadir dalam suka dan duka mereka,” ucapnya perihal ini.
Membangun, Bukan Hanya Menghitung Target
Sahabat D’Impact, dari 5 perusahaan tempatnya belajar dan bertumbuh sebelumnya, pemimpin perusahaan distribusi hasil bumi ini belajar bahwa ketika orang merasa didengarkan dan dilibatkan, loyalitas mereka tumbuh. Itu sebabnya ia terus menerapkan nilai-nilai wellbeing dalam perusahaannya saat ini.
Ia tidak ingin bawahannya merasa tertekan, apalagi takut berbicara. Karena itu, ia menyediakan ruang diskusi bebas dan menjaga keakraban dengan semua lini. “Kalau orang datang ke kantor cuma buat cari gaji, ya sayang. Saya ingin mereka bisa berkembang di sini,” jelasnya.
Yang lebih penting lagi, menurutnya, adalah kepemimpinan dengan jiwa sosial: Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah, tetapi juga harus punya kepekaan. Hal ini dapat memperkuat keterikatan antarindividu dalam satu visi bersama.
Mencapai Tujuan Bersama
Sahabat D’Impact, Anthony menekankan bahwa inti dari wellbeing adalah bagaimana semua orang dalam perusahaan punya energi yang sama untuk mencapai satu tujuan bersama. Jika karyawan merasa dihargai, merasa dimiliki, mereka akan berlari tanpa harus dipaksa.
“Mengembangkan potensi itu butuh ruang, dan tugas pemimpin adalah membuka ruang itu,” ujarnya. Maka, di tempat kerja yang ia pimpin, pertumbuhan pribadi dihargai, inisiatif diberi tempat, dan keberagaman tidak jadi penghalang. Dan di situlah kekuatan kolektif muncul.
Di sisi lain, ia juga sadar bahwa menciptakan wellbeing bukan pekerjaan instan; butuh konsistensi, butuh keteladanan. Tapi baginya, itulah seni memimpin yang sesungguhnya.
Berlanjut ke Komunitas
Sahabat D’Impact, nilai-nilai wellbeing tidak berhenti di dunia kerja. Anthony juga menerapkannya dalam kehidupan sosialnya di luar kantor — dengan pendekatan yang berbeda. Seperti apa wujudnya? Nantikan cerita selengkapnya di artikel berikutnya.