Budaya Inklusi

Penulis: Ignatius Herjanjam
Editor: Melissa Puspa Chandra

Sahabat D’Impact, dalam artikel sebelumnya kita telah mengenal latar belakang Mimi Mariani Lusli dan perjalanan pribadi aktivis serta pemimpin disabilitas netra ini hingga mendirikan Mimi Institute pada tahun 2009. Kali ini, mari kita lihat bagaimana budaya inklusi dan profesionalisme dihidupi secara nyata di dalam lembaga ini—mulai dari cara mereka bekerja, melayani, hingga menjalin relasi dengan masyarakat luas.

Budaya Inklusi di Setiap Segi

Lewat Mimi Institute, Mimi berusaha memastikan bahwa budaya inklusi – terutama inklusi disabilitas – dipraktikkan oleh semua pihak, baik internal maupun eksternal.

Budaya ini diterapkan dalam layanan pendidikan yang ditawarkan, yang juga menyasar dampak sosial serta ekonomi. Layanan pendidikan Mimi Institute merangkul setiap anak/remaja/dewasa  dengan berbagai ragam disabilitas atau kebutuhan khusus. Pembelajaran pun digelar tidak hanya di dalam lembaga tetapi juga di luar lembaga, seperti mengajak murid-murid berstudi wisata ke museum, mengikuti program literasi BPBD (badan penanggulangan bencana daerah), dan belajar berkendaraan umum, di mana masyarakat sekitar dilibatkan secara langsung, berinteraksi sosial dengan anak/remaja/dewasa berkebutuhan khusus. Selain itu, lembaga ini juga terbuka terhadap serta mengakomodir perbedaan latar belakang sosial dan status ekonomi, termasuk mereka yang datang dari keluarga prasejahtera.

“Kami memastikan bahwa pelayanan terhadap Murid Mimi Institute dari keluarga prasejahtera tetap setara dengan yang lain, tidak ada perbedaan perlakuan, karena bagi kami pemenuhan hak adalah yang utama. Semua Murid berhak mendapatkan pelayanan terbaik,” tandas Mimi saat diwawancarai tim D’Impact medio September 2025. “Niat tulus dan komitmen tinggi orangtua yang menghendaki anaknya yang berkebutuhan khusus bertumbuh dan berkembang – semangat ini yang juga mendorong Mimi Institute memberikan bantuan dana pendidikan.”

Tak hanya itu, secara operasional, 3 dari 10 staf Mimi Institute juga penyandang disabilitas, sahabat D’Impact; 2 orang low vision (berpenglihatan terbatas) dan 1 orang tuli ringan. Dalam day-to-day business, rekan low vision bekerja dengan program aplikasi pembesaran huruf pada komputer atau handphone dan loop (kaca  pembesaar), sementara staf tuli ringan menggunakan alat bantu dengar untuk mempermudah komunikasi. Selain itu, rekan kerja, murid dan orangtua murid pun terbiasa bicara berhadapan muka dengan staf yang berdisabilitas tuli ringan.

Profesionalisme sebagai Pilar Kemandirian

Sejak awal berdiri, Mimi Institute menerapkan sistem berbayar baik untuk program konsultasi, edukasi maupun  publikasi. Hal ini  sebab Mimi menginginkan lembaga ini selalu mandiri, tidak bergantung pada donasi tetapi pada  keahliannya dalam bidang disabilitas.

Bisnis di bidang ini tidaklah mudah. Namun demikian, Mimi optimis bahwa hal ini sangat bisa dilakukan.

Selain itu, penerapan sistem berbayar juga dilakukannya untuk menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang disabilitas mempunyai nilai profesional, sama dengan pekerjaan di bidang-bidang lain. Menurutnya, pekerjaan seperti asesmen fungsional anak/remaja/dewasa berkebutuhan khusus, konseling  disabilitas,  pelatihan pemahaman dan sensitivitas disabilitas serta audit aksesibilitas lingkungan fisik harus dihargai secara layak sebagaimana profesi lain, misalnya di bidang pajak, akutansi, desain, atau riset pasar.

“Di awal langkah ini mendapatkan macam-macam respon,” ungkap Mimi. “Orangtua keheranan ketika mau asesmen lalu diinformasikan biayanya. Keluarga yang hendak ikut program konseling disabilitas juga merasa aneh ketika tahu ada biayanya. Dan saat diadakan pelatihan yang disertai dengan biaya investasi,  masyarakat meresponnya dengan sinis.”

“Banyak yang masih mengira kalau membantu penyandang disabilitas itu gratis, atau cukup dengan mengandalkan donasi,” lanjutnya. “Padahal, bidang disabilitas adalah kerja profesional yang butuh keahlian.”

Ia pun mengakui, Ini tantangan terbesar: Ada yang mengira kami datang untuk minta sumbangan, padahal kami hadir untuk berbagi pengetahuan dan membangun relasi.”

Namun, pengalaman-pengalaman tersebut justru memperkuat komitmen Mimi terhadap profesionalisme, sahabat D’Impact. Hingga kini, selain menyediakan program-program edukasi dan konsultasi, Mimi Institute kerap hadir di ruang-ruang publik untuk mempromosikan inklusi disabilitas melalui berbagai jalinan kemitraan, di antaranya bazaar dan pameran hasil kerja sama  dengan pusat perbelanjaan , di mana Mimi Institute menjual produk-produk seperti kaos kampanye, penggaris braille, stiker dan souvenir edukatif sebagai bagian dari strategi edukasi sekaligus pendanaan berkelanjutan.

Sahabat D’Impact, demikian cara Mimi Institute merawat 2 nilai utama mereka dalam setiap program dan relasi: inklusi – terutama inklusi disabilitas – dan profesionalisme. Nilai-nilai ini tumbuh dari pengalaman pribadi Mimi, yang kemudian menjadi dasar untuk membangun budaya organisasi yang kuat dan berdampak. Bagi Mimi Institute, inklusi bukan hanya prinsip – ia adalah cara hidup yang dijalankan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab profesional. Luar biasa, bukan?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *