
Hidup tak selalu di bawah hangatnya matahari. Ada kalanya badai datang menghantam, menguji sekuat apa fondasi kehidupan kita. Banyak yang tumbang, tetapi ada juga yang justru bangkit lebih tangguh..
Obrain Torang Sianipar, S.Th, S.Pd, M.M. juga mengalami rentetan ujian dengan kondisi yang tidak mendukung dalam kehidupannya, mulai dari kecelakaan kerja yang menyebabkannya kehilangan kaki kanannya, hingga lingkungan kerja yang toxic di tengah dunia kerja yang menuntut target dengan hasil yang maksimal. Meskipun demikian, ia tak sekadar bertahan tetapi juga bangkit lebih tangguh. .
Apa rahasianya? Mari simak dalam artikel berikut, sahabat D’Impact!
Menyikapi Tantangan secara Positif
Pada 27 Desember 2011, Obrain yang kala itu seorang karyawan bank ditugaskan mengkoordinasi perayaan Natal di kantornya. Malangnya, dalam perjalanan ke tempat acara, ia dan sejumlah pengendara sepeda motor lainnya ditabrak oleh truk besar pembawa tabung gas bermuatan penuh. Hanya Obrain yang selamat dalam kecelakaan itu, meskipun kemudian ia harus menjalani lebih dari 14 kali operasi dan 2 kali amputasi kaki untuk mempertahankan nyawanya. Ia pun harus terbaring di rumah sakit selama 2½ tahun.
Namun, Obrain tak patah semangat, sahabat D’Impact. “Mengubah masalah menjadi peluang” adalah motto yang selalu ia pegang. Ia yakin tidak mungkin selamanya langit mendung dan menurunkan hujan, dan setelah hujan pasti ada pelangi. Jadi, selama menjalani perawatan, ia tak diam saja.
Ia mulai terjun ke dunia literatur, dengan menulis kata-kata mutiara di media sosialnya berdasarkan berbagai pengalaman hidup yang ia rasakan langsung. Salah satu tulisan singkatnya adalah: “Seseorang yang terbiasa dengan kesulitan akan mempunyai tingkat kedewasaan dan tingkat kewaspadaan dalam berpikir.”
Tulisan-tulisan tersebut lambat laun menarik perhatian luas. Menurut pengakuan salah satu petinggi bank, kisahnya berjuang antara hidup dan mati bahkan sering dijadikan contoh kepada pegawai bank tersebut.
Ia juga kerap diundang di berbagai seminar sebagai narasumber untuk berbagai topik, di antaranya memotivasi pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dan bebisnis lainnya, mengadvokasi tentang Layanan publik untuk disabilitas, dan memberikan pencerahan tentang “Hidup adalah Anugerah.” Ia bahkan pernah tampil dalam beberapa media surat kabar dan saluran televisi Nasional. Di samping itu, untuk menyokong kehidupan dirinya beserta keluarga, ia juga menjadi guru musik di sebuah SMA.
Beberapa tahun kemudian, beriring kerja keras mempersiapkan diri, motivasi diri yang pantang menyerah, juga Doa oleh ibu dan keluarganya, ia memberanikan diri mengikuti tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), yang kala itu jadwal penerimaannya berdekatan dengan penerimaan calon pegawai BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Setelah melalui proses seleksi, ia akhirnya diterima bekerja di sebuah BUMN, awalnya di divisi Human Resources lalu dipindahkan ke posisi Administrator Specialist.
Mencari cara yang Solutif untuk Mengatasi Tantangan
Di balik rasa syukurnya diterima bekerja di perusahaan tersebut, ternyata banyak tantangan yang harus Obrain hadapi.
Lingkungan kerjanya tidak kondusif. Pemimpin dan rekan kerja yang seharusnya menjadi support system-nya malah memperlakukan dirinya dengan tidak baik, seperti mencibir dan bahkan menghina. Infrastruktur fisik di tempat kerjanya pun tidak ramah disabilitas daksa.
Perihal ini, ia memilih untuk berdamai dengan kenyataan dan beradaptasi. Ia memilih untuk bersyukur bahwa ia masih memiliki mata pencaharian yang dapat menyokong keluarganya, dan mencari caranya sendiri untuk menyiasati masalah yang ada – misalnya, karena kantornya tidak ramah kursi roda, ia bermobilitas di seputaran kantor menggunakan tongkat. Ia pun berusaha untuk meng-upgrade diri agar tetap dapat bersaing di dunia kerja: memperdalam AI, belajar desain melalui salah satu platform, menggali berbagai pengetahuan dari YouTube, mengikuti beragam pelatihan baik luring maupun daring, dan membaca buku.
Mengapa demikian? Karena ia berprinsip, “Jika seseorang selalu mencari kambing hitam, kemungkinan besar hidupnya tidak bahagia.” Ia pun berpandangan, “Kalau segalanya mudah, kita tidak akan mengerti arti dari berjuang.”
Suara Karyawan Disabilitas: Harapan untuk diterima
Selain hal-hal di atas, Obrain juga berusaha mengedukasi rekan-rekan kerjanya tentang keberadaan para penyandang disabilitas, kesetaraan, amanah, saling menghargai, kesempatan yang sama, kolaborasi, dan pengabdian kepada tanah air dan bangsa, dengan harapan dapat menambah wawasan mereka, membuka wawasan baru, juga memperbaiki relasi antar tim dan sesama karyawan. Ia menerangkan kepada mereka antara lain bahwa semua orang berpotensi menjadi disabilitas, misalnya lansia yang mengalami penyakit degeneratif atau orang-orang yang mengalami stroke dan penyakit autoimun.
Berpikir bahwa kemungkinan masih banyak rekan disabilitas yang lain yang mengalami hal serupa dirinya atau bahkan lebih buruk lagi, Obrain kemudian mulai mengembangkan sayapnya ke lingkungan eksternal. Kali ini, ia meniatkan diri menjadi aktivis disabilitas. Ia tampil di berbagai media untuk menyuarakan kesetaraan dan hak-hak bagi para penyandang disabilitas di berbagai segi kehidupan, termasuk dunia kerja. Semboyan yang diusungnya dalam hal ini adalah: “Jangan wariskan air mata, wariskanlah mata air.”
Sahabat D’Impact, perjalanan hidup Obrain Torang Sianipar, S.Th, S.Pd, M.M, adalah bukti nyata bahwa ketangguhan bukanlah tentang menghindari badai, tetapi tentang belajar menari di tengah hujan. Kisahnya mengajarkan kita bahwa “mental baja” bukanlah bawaan lahir, melainkan pilihan yang ditempa setiap hari. Semoga sepak terjangnya menjadi cermin dan pengingat bahwa di dalam diri kita pun tersimpan kekuatan yang sama untuk bertahan, bangkit lebih tangguh, dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.