Penulis: Patrisia A. Pantouw
Editor: Melissa Puspa Chandra

Warisan budaya dan kearifan lokal yang dibudidayakan lalu diperkenalkan ke pasar nasional dan internasional memerlukan kerjasama antar beragam pihak dan tim yang solid.
Nola Marta Agustina Pantouw,”Kunjungi website Ekraf”, seorang desainer kelahiran Jakarta, membuktikannya saat ia dan timnya – Katon 9 – mengangkat kain tapis Lampung ke pasar global “Referensi Artikel lain,”Desainer Nola Marta fokus mengembangkan kain tapis dari Lampung serta memberdayakan perajin ke level dunia.”, sahabat D’Impact “Kunjungi website D’Impact Indonesia”.
Mari simak transformasi luar biasa yang mereka rajut, helai demi helai, dalam artikel berikut.
Warisan Budaya yang di tabur
Perjalanan Nola dimulai pada tahun 2016 melalui program Inovatif dan Kreatif lewat Kolaborasi Nusantara (Ikkon) oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Saat itu, perempuan kelahiran 11 Agustus 1981 ini ditempatkan di Desa Negeri Katon, Penawaran, Lampung. Ia bekerjasama dengan 9 pengrajin kain tapis, sehingga terbangunlah ekosistem pemberdayaan Kelompok Katon 9.
Sejak awal, para pengrajin langsung menyambut ajakan kerja sama dengan semangat. Mereka merasa dihargai karena dilibatkan secara penuh dalam proses, bukan hanya sebagai pembuat tetapi juga sebagai bagian penting dari perjalanan yang ingin dibangun bersama. Mereka pun ingin menjaga agar warisan dari ibu atau nenek mereka tidak hilang begitu saja. Antusiasme itu terlihat dari cara mereka bekerja yang makin terbuka dan berinisiatif untuk terus belajar dan berkembang.
Awalnya, program ini hanya berjalan selama 4 bulan, sahabat D’Impact. Namun, Nola melihat potensi besar yang belum tergali, dan para pengrajin pun masih bersemangat tinggi. Karenanya, meski program telah resmi berakhir, Nola kembali ke Lampung pada tahun 2017 untuk melanjutkan kolaborasi.
Dari Meja Dapur ke Pasar Global
Pertama, kolaborasi dengan pengrajin lokal bukan tanpa rintangan. Pengrajin sering bekerja sambil menikmati kopi dan gorengan usai mengurus rumah tangga. remah makanan atau tumpahan minyak merusak kain sutra yang halus.
Untuk menyiasati hal ini, Nola pelan-pelan menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan karya. Ia pun memberi insentif tambahan untuk hasil berkualitas tinggi, dengan cara mengganti upah borongan dengan sistem pembayaran per 4 inci (10 cm). Pengrajin ahli bisa menyelesaikan 10 cm dalam 1,5 jam dengan bayaran setara 15 hari kerja borongan tengkulak, sahabat D’Impact!
“Perbedaan pendapat juga terkadang muncul,” Nola melanjutkan. “Ada yang cepat beradaptasi, ada juga yang lebih berhati-hati. Kalau mulai muncul gesekan, biasanya cukup dengan saling mendengar dan menghargai satu sama lain. Setelah itu, jadi lebih tenang dan semangat kerja bisa tumbuh kembali.”
Nilai yang selalu dijaga adalah kepercayaan, keberlanjutan, dan keterbukaan. Nola tidak mempersoalkan hasil cepat, tapi menekankan pemeliharaan hubungan yang sehat dan saling menghargai antara ia dan timnya, antar pengrajin, juga antara mereka dan pihak-pihak terkait. Harmonisasi yang apik tersebut mengantarkan warisan budaya abad ke-9 ini ke panggung global. Oleh karena itu, kini pun tim pengrajin binaan Nola berjumlah 47 orang dari Kecamatan Pesawaran, Pringsewu, Tulang Bawang, dan Tanggamus.
Warisan Budaya yang Go International: Kebanggaan Bersama
Faktanya, perjalanan 8 tahun Nola beserta timnya memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Apresiasi SATU Indonesia Award bidang Kewirausahaan yang diselenggarakan Astra pada tahun 2019 dan Australia Award: Business Readiness & Leadership yang diselenggarakan Queensland University of Technology pada tahun 2018. Mereka pun telah berpameran di sejumlah lokasi, bahkan hinga ke New York, Amerika Serikat, dan menarik pembeli dari beragam negara, termasuk Inggris, Belanda, Qatar dan Prancis.
Sahabat D’Impact, kini, Katon 9 bersiap untuk Paris Fashion Week 2025 dan mengembangkan aplikasi mode Et Voila. Nola juga berencana memperluas pemberdayaan ke teknik bordir daerah lain hingga 2026.
Kisah Nola Marta Agustina Pantouw membuktikan bahwa semangat kerja semua anggota tim dalam merajut warisan budaya harus dipelihara agar terjadi kolaborasi yang apik demi tercapainya tujuan bersama yang dapat menghasilkan kemajuan dan bisa dinikmati semua orang secara berkesinambungan.