Penulis: Ignatius Herjanjam
Editor: Melissa Puspa Chandra
“Pengalaman adalah guru sejati.”

Pepatah ini mungkin terkesan cliché. Namun, bagi orang-orang seperti Ritson Manyonyo, pendiri serta ketua Yayasan Elsafan, yang menaungi panti sosial dan sekolah luar biasa bagi disabilitas netra dan ganda netra di Jakarta, juga sekolah PAUD terpadu di Makilaya serta pusat balai latihan kerja disabilitas yang berbasis Pertanian , Perkebunan dan Peternakan di Maumbus, keduanya di Sawidago, Poso, Sulawesi Tengah, pepatah ini menjadi bagian besar dari kehidupan mereka. Dan, seperti mengasah intan menjadi berlian, Ritson mengasah pengalaman yang ia miliki menjadi nilai-nilai yang kemudian ia terapkan di yayasan yang dipimpinnya.
Apa saja pengalaman yang menempa Ritson Manyonyo dan mendorongnya membentuk serta mengembangkan lembaga sosial tersebut hingga kini? Apa saja nilai yang lantas menjadi pilar-pilar yayasan? Mari simak kisahnya dalam artikel berikut ini.
Bangkit dari Titik Terendah
Sahabat D’Impact, pada tahun 1995, Ritson Manyonyo merantau dari Poso, Sulawesi Tengah ke Jakarta untuk melanjutkan studi dan mencari pekerjaan. Namun harapannya kandas. Penglihatannya yang sejak SMA terganggu karena penyakit glaukoma semakin memburuk, hingga akhirnya ia mengalami kebutaan total pada bulan April 1999.
Pada tahun itu juga ia kembali ke Poso. Namun kepulangannya tak disambut baik oleh sebagian besar anggota keluarganya. Ia sempat mengalami penerimaan dan perlakuan yang kurang menyenangkan dari saudara-saudaranya dan dianggap tidak berguna. Ia tidur di gudang bersama anjing, dan sempat merasa hidupnya tidak lagi berarti.
Merasa frustrasi, pria kelahiran tahun 1975 ini sempat ingin meminum racun serangga. Namun, di tengah keputusasaannya itu, muncul suara hati yang berbisik, “Masih ada harapan dalam Tuhan.”
Suara hati tersebut mendorongnya untuk bangkit dan memperjuangkan hidupnya serta membuktikan bahwa ia bisa berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat. Dukungan ayah yang adalah seorang pendeta dan ibu yang seorang diaken makin memperkuat tekadnya.
Membangun Ulang Hidup dan Harapan
Sahabat D’Impact, titik balik hidup Ritson dimulai ketika ia merantau ke Bawen, Salatiga, Jawa Tengah, pertengahan tahun 2000. Di sana, ia tinggal di sebuah panti asuhan dan dibina oleh seorang pendeta. Selama masa pembinaan itu, ia mulai memahami kembali makna hidup, memulihkan mental, serta memperdalam spiritualitasnya. Semangat hidupnya pun bangkit, hingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan teologi di Jakarta.
Pada bulan Agustus 2001, Ritson diterima di sebuah sekolah tinggi teologi dan berhasil lulus tahun 2004. Di tengah kuliah, ia juga bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah lembaga sosial. Namun, kontraknya tidak diperpanjang.
“Sulit sekali bagi penyandang disabilitas netra untuk mendapat pekerjaan,” ujarnya mengakui.
Meskipun demikian, ia tidak pernah berhenti mencoba. Dan, di tengah perjuangan pribadinya, ia pun memikirkan nasib teman-teman sesama tunanetra yang mengalami kesulitan serupa. Di sanalah muncul gagasan untuk membentuk sebuah wadah yang memberdayakan tunanetra agar bisa hidup mandiri dan bermakna baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain.
Dari Rumah Petak ke Rumah Harapan
Sahabat D’Impact, rupanya Ritson tak sendiri dalam keinginannya menciptakan tempat pembinaan yang layak bagi tunanetra agar dapat mandiri. Ia – bersama Kristina Silpa, yang kemudian menjadi istrinya hingga kini – mengajak 6 orang temannya sesama tunanetra serta 1 orang non-disabilitas yang berhasrat serupa untuk bersama-sama berkumpul untuk mewujudkan hal ini.
Pada tahun 2005, Ritson dan Silpa menyewa sebuah rumah 1 petak sederhana di Gang Madrasah, Cipinang Barubunder, Jakarta Timur. Dari tempat itulah mereka mulai melangkah: membina 1 orang anak tunanetra dengan penuh komitmen.
Setahun kemudian, jumlah anak yang dibina mulai bertambah. Mereka pun mulai memikirkan nama untuk komunitas ini.
“Waktu itu teman-teman mengusulkan banyak nama, salah satunya Edelweiss. Tapi yang akhirnya terpilih adalah Elsafan, atas usul Kristina Silpa, tepatnya Elsafan Ministry,” ungkap Ritson. “Nama tersebut diambil dari kitab suci, yang berarti ‘TUHAN Pelindungku ‘.”
Dengan semakin seriusnya komunitas ini bergerak, semakin banyak pula murid yang berdatangan, hingga garasi rumah pun “disulap” menjadi ruang belajar pada tahun 2008. Melihat hal ini dan menyadari pentingnya legalitas, komunitas ini resmi didaftarkan sebagai Yayasan Elsafan serta disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia pada tahun yang sama.
Dampak Nyata: Cikal-Bakal Kepercayaan
Sahabat D’Impact, seiring waktu, masyarakat mulai melihat hasil nyata dari proses pembinaan yang dilakukan — anak-anak yang semula tidak percaya diri mulai mandiri dan mampu menjalani aktivitas dengan lebih baik. Kepercayaan pun mulai tumbuh; tidak hanya dari keluarga penyandang tunanetra, tetapi juga dari masyarakat luas.
Seiring perkembangannya, Elsafan mulai menerima anak-anak dengan disabilitas ganda-netra seperti netra-grahita, netra-fisik, bahkan netra-grahita-fisik. Pelayanan yang inklusif menjadikan Elsafan sebagai tempat terbuka untuk berbagai kondisi disabilitas dan latar belakang.
Elsafan kini menempati gedung sendiri di kawasan Pondok Bambu , Duren Sawit, Jakarta Timur. Tempat ini menjadi ruang bagi banyak penyandang disabilitas netra dan ganda-netra untuk belajar, berkembang, menemukan kembali makna hidup, dan bahkan juga dapat memberikan makna bagi orang lain, seperti yang dulu Ritson sendiri rasakan dan cita-citakan.
Sahabat D’Impact, semua ini tak terlepas dari kepercayaan yang diberikan oleh orangtua dan wali murid, juga Masyarakat luas yang mendorong semua bagian Yayasan ini untuk menjadi lebih baik. Sementara itu, hasrat untuk turut berkontribusi meski berdisabilitas adalah “bensin” yang menyokong “mesin” ini untuk terus bergerak menuju masa depan.
Nah, bagaimana cara Ritson Manyonyo menerapkan system kepercayaan dan kontribusi di Yayasan Elsafan sepanjang perjalanannya hingga kini? Apa saja lika-liku yang mereka hadapi? Mari kita simak dalam artikel berikutnya.