
Penulis: Melissa Puspa Chandra
Editor: Fidesia Noor
Sahabat D’Impact, kultur perusahaan seperti apa yang dapat membawa seorang penyandang disabilitas ganda menjadi salah satu direktur di sana?
Mari temukan jawabannya dalam penuturan Ahmad Mahsuri, penyandang disabilitas buta warna dan rungu parsial yang juga Head of Engineering di suatu perusahaan rokok internasional sejak tahun 2016 hingga akhir April 2025 lalu berikut ini.
Kebijakan Anti Diskriminasi – Bukan Cuma Bicara
Ahmad mulai meniti karier di perusahaan ini beberapa bulan semenjak lulus S1 jurusan Teknik Mesin tahun 1994. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan diterima sebagai karyawan, meskipun telah menyandang buta warna parsial merah-hijau sejak lahir. Ia bahkan dipercaya perusahaan untuk membuka pabrik di Myanmar 6 tahun berselang, dan selanjutnya membuka pabrik-pabrik lain di Surabaya, Sukoharjo dan Karawang.
Pendengaran di telinga sebelah kanannya mulai berkurang sejak tahun 2007, namun ia terus berkarya dan bahkan ditugaskan memimpin Primary Engineering di kawasan Asia-Pasifik tahun 2008. Ia pun sempat mengepalai cabang perusahaan di Pakistan selama setahun, sebelum direlokasi kembali ke Indonesia oleh permintaan kedua putranya, yang juga dijembatani perusahaan.
Rupanya, ini lantaran, “Siapa pun yang tidak inklusif, siapapun yang tidak respect terhadap perbedaan, itu ada sanksinya dari company. Bukan masalah disabilitas saja tapi juga sexual harassment, berkata kotor dan lain-lain.”
Pria berumur 54 tahun yang senang mementori talenta-talenta muda ini meneruskan, “Jadi awalnya memang ada pemaksaan untuk respect satu sama lain. Di awal-awal, kebiasaan itu kan kadang-kadang harus dipaksa ya, supaya behavior bisa menjadi habit. Habit kalau sudah menjadi consistent itu bisa menjadi culture.”
Namun, “pemaksaan” ini juga dibarengi dengan program dan kampanye terkait, sahabat D’Impact.
Pelopor Menghargai Keberagaman dan Inklusi
Perusahaan ini memiliki divisi Keberagaman dan Inklusi, yang mewadahi serta menjembatani kebutuhan beragam kaum rentan, mulai dari orangtua yang bekerja hingga disabilitas. Dan, pada tahun 2022-2023 lalu, mereka menjalankan kampanye disabilitas yang tidak hanya menyebarkan pengetahuan terkait disabilitas tetapi juga mengajak penyandangnya untuk mendeklarasikan diri.
Ahmad dengan senang hati menjadi salah satu duta besar disabilitas dalam kampanye ini, termasuk mendeklarasikan diri sebagai penyandang disabilitas ganda, karena, “Kalau kita tahu, oh di company ada disability yang bekerja, apalagi di area kita, teman-teman akan melihat sendiri: Orang yang disabilitas juga bisa bekerja kayak yang non-disabilitas kok. Walaupun mungkin di luar sana orang berpikir bahwa disability akan menghambat suatu pekerjaan, tapi kenyataannya nggak gitu. Dan kalau kita memberikan kesempatan kepada karyawan disabilitas untuk memiliki opportunity yang sama, orang yang mungkin tidak disabled pun akhirnya me-respect mereka. Dan, di sisi lain, awareness dan value buat yang non-disabilitas juga tercipta, karena memiliki berbagai macam perbedaan itu akan memperkaya kita.”
Nah, apa hasil konkrit dari budaya meritokrat yang saling menghormati ini?
Ketika Lingkungan Kerja Berbudaya Inklusif
“Ternyata banyak orang yang men-declare sebagai disabilitas akhirnya,” ungkap Ahmad. “Mungkin orang merasa malu awalnya, tapi ternyata, ‘Oh ini Pak Ahmad yang senior management saja berani men-declare, kenapa saya harus malu?’ Jadi itu akhirnya meng-encourage people gitu, yang saya dengar ya.”
“Recruitment juga mulai memberikan porsi untuk disabilitas,” ia melanjutkan. “Tentunya pekerjaannya di-align-kan, dicarikan pekerjaan yang memungkinkan buat mereka. Sekarang sudah ratusan yang dipekerjakan di pabrik-pabrik kita.”
Secara pribadi, Ahmad pun merasakan, “Sebetulnya declaration itu banyak membantu, apalagi kalau kita berada di situasi tempat kerja yang sangat inclusive ya. Jadi mereka paham, ‘Oh ini ada teman saya yang disabilitas.’ Bukan lantas mengasihani, tapi mengakomodir. Jadi misalkan awalnya dia duduk di sebelah kanan saya, saya kalau ngomong selalu miring-miring gitu supaya bisa dengar dia karena telinga saya yang kanan sudah nggak berfungsi lagi, lalu dia pindah ke sebelah kiri supaya saya nggak perlu miring-miring lagi. Bahkan saya seringkali bercanda sama teman-teman itu. Saya bilang, ‘Kalau kamu marah-marah ke saya, saya gampang kok, saya pura-pura tutup tangan saya ke telinga sebelah kiri, jadi kalian marah-marah saya nggak pernah dengar, saya nggak terpancing emosi.”
Pengakomodasian ini terjadi tak hanya di luar pekerjaan tetapi juga saat bekerja, sahabat D’Impact. Ahmad bercerita, “Saya selalu find a way. Saya bilang misalkan ke tim, ‘Tolong deh, biasanya kan kita membuat PowerPoint dengan traffic light ya untuk report: merah, hijau, kuning. Tapi warna merah sama hijau kalau terlalu kecil saya nggak bisa membedakan. Jadi tolong khusus untuk warna ini kalau merah kasih bentuk bulat, kalau hijau kasih segitiga, sehingga saya melihatnya bukan karena warna, tapi karena simbol.’”
Pada intinya, seperti yang dikatakan Ahmad sendiri, “Orang disability itu kan sebetulnya tidak menginginkan dia harus dikasihani. Mungkin juga takut men-declare, tapi kalau akhirnya mendeklarasikan diri sebagai disabilitas terus tidak ada sanksi apa-apa dari company, dan bahkan mendapatkan dukungan, ya akhirnya dia merasa nyaman. Dan hal ini bisa di-support dengan fasilitas fisik, kemudian culture yang dibentuk dengan cara bertahap, juga faktor working environment yang saling respect dan inklusif.”