
Penulis: Ignatius Herjanjam
Editor: Melissa Puspa Chandra
Bisnis sosial bukan sekadar usaha mencari keuntungan, tapi juga sarana menciptakan dampak positif bagi masyarakat. Inilah yang dilakukan Ritson Manyonyo, pendiri dan ketua Yayasan Elsafan, sejak yayasan ini berdiri.
Bagaimana Ritson membangun yayasan ini bukan hanya sebagai wadah mengembangkan diri bagi penyandang disabilitas netra dan netra-ganda tetapi juga bisnis sosial yang mengalirkan potensi mereka? Mari simak dalam artikel berikut ini.
Membangun Fondasi, Memperkuat Kepercayaan
Sahabat D’Impact, bangunan yang kokoh tentunya memerlukan fondasi yang baik agar bisa berdiri dengan tegak untuk jangka panjang. Demikian pula dengan suatu lembaga, dan Ritson tak hanya menyadari hal ini tetapi juga menerapkannya.
Yayasan Elsafan bukan sekadar panti tempat tinggal sejumlah penyandang disabilitas, melainkan sebuah ekosistem pembelajaran dan kemandirian. Anak-anak diajarkan keterampilan seperti menyanyi, kerajinan, musik, memasak, dan tampil di forum publik. Mereka tidak hanya menerima bantuan, tapi juga menjadi pelaku aktif dalam proses tumbuh dan berkarya.
“Saya percaya setiap orang termasuk disabilitas sekalipun memiliki talenta,” ujar Ritson kepada tim D’Impact. “Untuk itu kami berupaya mengoptimalkan talenta yang kami miliki.”
Akuntabilitas menjadi prinsip utama di yayasan ini. Sejak awal, Ritson menekankan pentingnya keuangan yang transparan dan dapat diaudit. Pengelolaan dana dilakukan oleh tim profesional, bukan secara personal, sehingga memperkuat kepercayaan para donatur dan masyarakat umum.
“Sejak awal, saya dan pengurus inti berkomitmen tidak memegang sepeserpun dana,” tegas pria kelahiran tahun 1975 ini, pertengahan Agustus lalu.
Kontribusi dan Capaian Nyata
Kini Yayasan Elsafan tidak hanya memiliki sekolah luar biasa dari jenjang PAUD hingga SMA dan kelas pengembangan diri, tapi juga Elsafan Shop — sebuah unit usaha yang menjual produk-produk hasil karya anak-anak, seperti makanan dan kerajinan. Yayasan ini pun mengembangkan balai pelatihan kerja di Poso, Sulawesi Tengah dengan luas 12 hektar, berbasis pertanian, peternakan dan perkebunan. Selain itu, para anggota binaan juga aktif dalam kompetisi seni, teknologi, olahraga, dan forum-forum inklusi di tingkat nasional.
“Semua ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak, agar mereka memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi,” tutur Ritson.
Sahabat D’Impact, melalui kombinasi antara nilai-nilai yang dipegang teguh, prinsip bisnis sosial, dan kerja nyata, kehadiran Yayasan Elsafan membuktikan bahwa menyandang disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya dan berdampak positif. Bisnis sosial yang mereka bangun bukan sekadar institusi, melainkan rumah pertumbuhan dan harapan. Luar biasa bukan?!