
Penulis: Melissa Puspa Chandra
Sahabat D’Impact, bisakah company gathering menjadi lebih dari sekadar sarana hiburan dan memperkuat teamwork? Bisakah nilai-nilai perusahaan hidup di dalam setiap sesinya?
Lucia Nany Lusida, Founder dan CEO D’Impact Indonesia, menargetkan hal ini saat menggagas acara outing untuk seluruh karyawan. Tantangannya? Menciptakan pengalaman yang inklusif bagi tim multigenerasi, termasuk rekan-rekan disabilitas.
Apakah misi ini berhasil? Bagaimana nilai-nilai perusahaan — continuous learning, courage to innovate, customer-centric, compassion, dan integrity — terwujud dalam setiap momen? Mari simak kisahnya dari para peserta berikut ini!
Continuous Learning dan Courage to Innovate
Manusia tidak pernah berhenti belajar seumur hidupnya. Karyawan D’Impact pun diharapkan berlaku demikian. Lebih jauh lagi, mereka diharapkan untuk berani membuka ruang belajar baru berdasarkan apa yang sudah mereka alami dan pelajari.
Tantangan adalah salah satu guru terbaik dalam hal ini, seperti diakui Andrian Setiawan, HR consultant D’Impact yang menyusun acara gathering: “Waktu persiapannya singkat, lokasinya di luar pulau, dan pesertanya beragam, termasuk teman-teman dengan disabilitas. Saya dan tim harus memastikan seluruh agenda acara bisa inklusif, menyenangkan, dan tetap bermakna bagi semua peserta. Misalnya, dalam merancang kegiatan team building, kami benar-benar memperhatikan agar setiap orang dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda bisa tetap berpartisipasi aktif.”
Ia lantas menandaskan, “Dari proses ini saya belajar bahwa inklusivitas bukan hanya soal ‘bisa ikut’, tapi bagaimana menciptakan pengalaman yang setara dan berkesan bagi semua. Dan secara pribadi, selama kegiatan berlangsung saya jadi jauh lebih memahami bahwa keberagaman bukan penghalang, justru bisa menjadi kekuatan kalau dikelola dengan empati dan inklusi.”
Keberagaman – terutama terkait rekan disabilitas – pun disambut secara antusias oleh para peserta lain, bahkan menjadi ajang belajar baru, terutama dalam hal berempati dan berinklusi.
Compassion
Mengasihi, bukan mengasihani, dan melakukan aksi nyata terkait – para peserta gathering berusaha menerapkannya, dan karyawan disabilitas yang hadir sangat merasakannya.
Ignatius herjanjam, content writer D’Impact yang juga seorang tunanetra total, mengungkapkan, “Saat bertemu dengan teman-teman di bandara, awalnya saya merasa sedikit canggung, tapi sambutan mereka sangat hangat dan membuat saya merasa nyaman. Mereka membantu saya dalam navigasi di bandara, selama penerbangan, bahkan saat menginap. Saya merasa sangat diperhatikan dan pendampingannya sangat tulus, tanpa merasa terbebani.”
“Mereka welcome dengan keberadaan saya,” Andreas Paulus, graphic designer D’Impact pengguna kursi roda, menyetujui. “Mereka mengajak saya ikut terjun.”
Monica Andriana, seorang HR consultant D’Impact non-disabilitas, menanggapi topik ini dengan ceria dan antusias, dan membagikan pengalamannya sendiri bersama seorang rekan disabilitas yang tunanetra total: “Pada saat itu pusat oleh-oleh yang kami tuju sedang ramai dan sangat luas lokasinya. 3 lantai pula, dan dalam waktu kurang dari 1 jam kami harus kembali ke bus, sedangkan list belanjanya Mel banyak sekali. Monica merasa ter-challenge bagaimana cara membantunya, tapi syukurnya, walaupun terbatas waktunya, lokasinya banyak, Monica dan Mel bisa sama-sama belanja dengan cepat. Menurut Monica itu amazing.”
Sikap senang dan puas saat membantu ini pun berdampak ke ranah lain, sahabat D’Impact.
Customer-centric
“Pelanggan adalah raja” mungkin semboyan yang sering didengar, bahkan diterapkan. Namun, ketika sikap ini dijiwai, bahkan sesuatu yang rumit pun bisa terasa seperti petualangan yang menyenangkan dengan hasil yang memuaskan.
Perihal ini, Binardewi Indriani Mahalim (Binar), talent recruiter D’Impact yang juga anggota tim konsumsi saat gathering, bercerita, “Saya belum pernah ke Bali setelah sekian lama, jarang juga jajan makan di luar. Ketika menjadi tim konsumsi, banyak hal yang harus saya pertimbangkan: bisa diakses disabilitas atau tidak, rasa makanannya enak atau tidak, no pork no lard, menunya menarik atau tidak, dan juga apakah sesuai dengan review di Google. Kami juga memikirkan untuk ketersediaan snack yang variatif, yang mudah dibagikan, dibawa, dan dimakan. Tapi teman-teman peserta ternyata mau bantu packing dan menyiapkan snack, dan ketua panitia mau direpotkan membawa perlengkapan makanan disposable untuk berjaga-jaga. Saya merasa sangat senang sekali dan betul-betul terbantu. Tugas konsumsi juga jadi lebih mudah.”
Selain saat bertugas sebagai tim panitia, Binar serta para peserta lain juga memperoleh pengalaman serupa terutama saat ditantang untuk membantu warga sekitar dalam sesi social impact.
Dalam waktu kurang dari 1 jam, kelompok di mana Binar tergabung berhasil menggerakkan para petugas pembersih sampah pantai untuk kembali bersemangat melakukan tugas mereka. Dan, menurut Binar, rahasianya adalah, “Kita udah tau apa yang kita mau tuju, juga kita capable-nya Di mana, ya kita lakukan tugas kita sesuai itu. Dan kita juga mesti sensitif lihat sekitar – tim kita ini perlu bantuan apa – Ada yang kurang ga? Ada yang perlu dibantu ga? Nah itu kita langsung bersolidaritas untuk saling membantu.”
Integrity
Tentunya, kekompakan ini berakar dari nilai integritas yang bersama-sama dipegang seluruh peserta, sahabat D’Impact. Seperti dikatakan Effendi, payroll services consultant D’Impact yang juga anggota tim transportasi dalam acara gathering, “Kita satu sama lainnya bertindak dengan jujur dan bertanggung jawab. Dan dalam acara tersebut, kita bekerjasama supaya semua peserta tidak ada yang tertinggal dalam mengikuti acara demi acara.”
Indri Agustiani, finance staff D’Impact sekaligus ketua panitia gathering, menambahkan, “Dalam acara, saya harus mengatur waktu dengan acara yang padat dan mengoordinasikan banyak orang. Saya jadi sadar bahwa keberhasilan acara bukan hanya karena satu orang, tapi karena kerja sama semua pihak. Saya jadi belajar bahwa menjadi pemimpin tidak selalu harus sempurna, yang penting adalah bisa diandalkan, dan tetap punya hati dalam setiap yang dikerjakan.”
Sahabat D’Impact, melalui pengalaman para peserta, kita melihat bagaimana sebuah acara bisa jadi tidak sekadar rekreasi, tetapi juga cermin budaya perusahaan yang inklusif, kolaboratif, dan penuh makna. Dari tantangan mengatur acara yang aksesibel bagi semua, hingga momen-momen kecil yang mempererat ikatan seperti keluarga — setiap kisah di balik D’Impact Outing ini adalah bukti bahwa ketika nilai-nilai dijalankan dengan hati, dampaknya jauh melampaui ekspektasi, seperti yang diharapkan oleh Lucia sebelum acara.