Pekerja Tunanetra di Sektor Formal

Rupanya, pengembangan diri serta pemberdayaan tunanetra pun demikian, sahabat D’Impact.

Hal ini ditemukan dalam Regional Employment Summit for Persons with Visual Impairment yang digelar di Hanoi, Vietnam, awal Desember 2024.

Apa saja yang menjadi keprihatinan 3 negara yang terlibat dalam acara ini? Apa yang mereka lakukan agar masalah “saling menunggu” dapat berkurang dan para pekerja tunanetra dapat semakin terberdayakan? Mari simak ulasannya berikut:

Pengenalan dan Pembekalan Sejak Dini

Dengan semakin bergaungnya konsep inklusivitas di seluruh dunia, termasuk dalam ranah disabilitas, semakin banyak pula elemen masyarakat yang tergerak menerapkannya. Penyedia kerja di sektor formal, salah satunya. Namun, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, Filipina dan Vietnam, kualitas dan kuantitas calon pekerja disabilitas dirasa masih belum mencukupi. Standar pendidikan formal yang belum tercapai serta kurangnya keterampilan dan pengalaman kerja adalah keprihatinan terbesar dari para calon pemberi kerja.

Organisasi ketunanetraan yang terlibat dalam summit ini menyiasatinya dengan mengadvokasi pendidikan yang lebih inklusif baik kepada pemerintah maupun lembaga pendidikan. Mereka pun berinisiatif menyediakan layanan pendampingan Pendidikan serta pelatihan bagi tunanetra binaan mereka, juga bekerjasama dengan sejumlah badan usaha untuk menyediakan kesempatan magang dan bahkan lowongan kerja.

Tak hanya itu, seorang pemberi kerja dari Indonesia yang bergerak di bidang human resources mengungkapkan, “Waktu itu ada perusahaan yang sedang buat program disabilitas. Mereka tanya saya, apa saya punya rekomendasi penyandang disabilitas yang memenuhi standar mereka. Saya bilang ada, dan saya tawarkan. Saya bilang, ‘Coba aja dulu. Gajinya nanti dari saya’, tapi mereka mau tanggung. Sebelum karyawan ini mulai kerja, kami persiapkan dulu lingkungannya. Saya buatkan pelatihan disability awareness untuk perwakilan semua karyawan di sana. Sekarang mereka hire disabilitas sendiri untuk pabrik-pabrik mereka.”

Pemasaran secara Optimal

Namun, yang perlu bergerak rupanya tak hanya dari pihak organisasi ketunanetraan dan pemberi kerja saja, sahabat D’Impact. Hasilnya pun menggembirakan.

Dalam summit, perwakilan pemerintah Vietnam mengutarakan bahwa baru sekitar 23 persen penduduk berdisabilitasnya yang sudah lulus kuliah dan bekerja. Meskipun demikian, sejumlah tunanetra binaan organisasi ketunanetraan di sana memanfaatkan pendidikan yang telah mereka peroleh dengan baik.

Seorang tunanetra lulusan jurusan Teknik Informasi bercerita bahwa ia nekad melamar ke perusahaan gadget internasional yang berbasis di negara lain.

“Mereka ragu, tapi mereka terima saya,” ujarnya berbalut humor saat berbagi dalam ajang ini. “Selama sebulan saya cuma duduk diam, karena mereka tidak tahu saya mau diapakan. Bosan sekali. Lalu saya berinisiatif berkata ke atasan saya, ‘Eh, Anda kan mempekerjakan saya karena diploma saya. Sekarang tolong pakai hasil kerja keras saya itu.’”

Kesuksesan karier yang kemudian dicapainya membuat kawan-kawannya lebih percaya diri untuk melakukan hal serupa, atau mulai menggeluti bidang yang sama.

Menjamurnya keberadaan pekerja tunanetra di bidang informasi, teknologi dan komputerisasi dirasakan tak hanya di Vietnam, sahabat D’Impact. Filipina dan Indonesia mencatatkan hal serupa, dan memboyong sejumlah praktisi tunanetra di bidang ini untuk menghadiri dan berbagi dalam summit. Fenomena ini terbentuk berkat dukungan sejumlah lembaga pendidikan serta pemerintah terkait.

Di penghujung acara, seraya menggodok resolusi summit, para peserta sepakat bahwa setiap pihak yang berkepentingan perlu duduk bersama untuk berbagi pendapat, pengalaman dan solusi secara berkala. Hal ini agar setiap pihak yang berkepentingan tidak hanya dapat berbagi insights dan situasi terkin tetapi juga dapat mengambil tindakan terkait.

Semoga ulasan ini juga dapat membawa insight bagi sahabat D’Impact. Salam inklusi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *