Walk the Talk dalam Membangun Budaya Perusahaan.jpg

Penulis: Melissa Puspa Chandra

Bagaimana caranya mempertahankan prinsip integritas di tengah lingkungan bisnis yang abu-abu? Apakah menghilangkan jabatan supervisor justru memperkuat tim? Dan apa yang terjadi ketika perusahaan memberi kesempatan setara pada penyandang disabilitas?

Mari temukan jawabannya dalam penuturan Mas Agung Sachli, owner dan CEO PT Integritas Makmur Mandiri (Imamatek) berikut, sahabat D’Impact:

Demi Menjunjung Integritas

Ada momen dalam hidup yang mengubah segalanya. Bagi Mas Agung Sachli, yang akrab disapa Agung, momen tersebut terjadi pada tahun 2006.

“Sebelum mendirikan Imamatek, saya adalah co-founder dari sebuah software akuntansi terkenal. Kami mendirikan perusahaan tersebut di tahun 1998,” ungkapnya. “Namun di tahun 2006, kami pisah jalan karena ada perbedaan dalam definisi kepuasan pelanggan.”

Keputusan itu tidak mudah, sahabat D’Impact, tetapi sangat membekas dan menjadi pengalaman yang amat berharga. Bahkan, pada akhirnya, momen ini menjadi fondasi bagi Agung untuk terus maju dan berkarya hingga kini.

“Nama depan Imamatek adalah Integritas,” ia menegaskan. “Value ini yang terus saya junjung tinggi selama memimpin Imamatek hampir 2 dekade ini.”

Namun, Agung pun menyadari bahwa integritas saja tak cukup untuk menciptakan tim yang solid.

Menyiasati Jarak dan Potensi Miskomunikasi

Perusahaan yang berfokus pada pengembangan dan pendistribusian software apps terkait akuntansi dan bisnis serta solusi teknologi lainnya ini berkaryawan sekitar 30 orang. Namun, uniknya, Imamatek tidak memiliki posisi supervisor dalam struktur keorganisasiannya, sahabat D’Impact.

“Hanya ada staf dan manager di sini,” tutur pria lulusan S1 jurusan teknik elektro ini kepada tim D’Impact. “Ini agar gap antara atasan dan bawahan menjadi sempit.”

Ia lantas melanjutkan, “Budaya lain yang juga saya terapkan di Imamatek adalah keterbukaan dalam berkomunikasi. Siapa pun yang ingin bicara dengan saya, akan saya luangkan waktu. Mereka yang menemui tantangan baik di bidang pekerjaan maupun urusan pribadi, akan saya coba bantu.”

Kebijakan ini pun membuahkan hasil, sahabat D’Impact.

Agung mengungkapkan, “Dengan keterbukaan komunikasi ini, hubungan dengan karyawan juga dekat yang otomatis meningkatkan semangat mereka bekerja.”

Walk the Talk

Perihal nilai-nilai perusahaan, Agung juga menyatakan, “Imamatek mempunyai misi untuk menjadi perusahaan yang menyediakan kesempatan yang setara kepada setiap orang tanpa memandang SARA, usia, pendidikan, gender dan disabilitas.”

Dan, pada tahun 2022, pernyataan ini mendapatkan ujian, sahabat D’Impact.

“Waktu itu kami ada lowongan programmer. Tiba-tiba ada 1 orang kandidat penyandang tunanetra yang lolos seleksi administratif,” kenang Agung. “Kala itu kami belum tahu apa pun tentang cara mempekerjakan karyawan disabilitas. Tapi dengan semangat menyediakan kesempatan yang setara kepada semua orang, kami jalankan saja.”

Kandidat penyandang tunanetra itu melalui proses hiring yang sama dengan kandidat non-disabilitas, mulai dari interview sampai sederetan tes kecakapan. Selulus proses ini, ia pun menjalankan proses on-boarding yang sama. Namun, rupanya, kali ini perjalanannya tak semulus sebelumnya.

“Saat karyawan tersebut baru masuk, dia beserta 2 programmer lainnya langsung diberikan 2 minggu training intensif,” Agung bercerita. “Dia selalu tertinggal karena materi-materi training yang digunakan sebagian besar masih bersifat visual. Supaya dia bisa belajar secara maksimal, saya harus mengubah materi-materi training tersebut agar lebih banyak tulisan deskriptif.”

Buah Inklusivitas

Sahabat D’Impact, solusi di atas tercapai berkat keinginan Agung untuk mencari tahu sumber permasalahan yang ada, juga kesediaan karyawan tunanetra yang dimaksud untuk membagikan informasi yang diperlukan, serta kerelaan Agung untuk mengimplementasikan perubahan. Dan, pada akhirnya, seperti yang dinyatakan Agung sendiri, “Mempekerjakan penyandang disabilitas tidaklah mudah. Namun ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan.”

Pria yang gemar mengutak-atik peralatan elektronika ini bahkan terkesan dengan kinerja karyawan tunanetra tersebut, juga pengaruh positif yang ia “tularkan” kepada rekan-rekan sekerjanya.

“Karyawan yang bersangkutan sangat mandiri dan mau berusaha dengan keras untuk beradaptasi. Karyawan-karyawan yang non-disabilitas juga sangat mendukung hal tersebut,” ungkap Agung. “Hal itu membuat kerja sama tim menjadi lebih erat.”

Pengalaman ini memberikan hikmah tersendiri baginya, yang ingin ia bagikan juga dengan sahabat D’Impact lainnya: “Berikan peluang yang setara kepada semua karyawan. Hal itu akan mengangkat moral kerja semua karyawan di perusahaan.”

Sahabat D’Impact, kisah perjalanan Mas Agung Sachli dan Imamatek ini membuktikan bahwa kesuksesan sebuah perusahaan tak terlepas dari perwujudan nilai-nilai yang diusungnya. Integritas yang tak tergoyahkan, keterbukaan yang memutus jarak hierarki dan inklusivitas yang memberi ruang bagi setiap potensi berujung pada perusahaan yang tak hanya bertahan selama hampir 2 dekade, tetapi juga tumbuh dengan tim yang solid, kolaboratif, dan penuh makna.

Semoga pengalaman yang dibagikan Agung ini bermanfaat bagi sahabat D’Impact. Salam sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *