Greggorius Djako

Impian besar manis rasanya. Namun, bagaimana ketika kita diperhadapkan dengan jalan menuju kepada impian tersebut yang tak menentu, mendaki, berbatu-batu dan penuh oleh aral melintang?

Sahabat D’Impact, Greggorius Djako, yang membagikan impian serta pencapaian besarnya di artikel lalu, rupanya juga menghadapi pertanyaan fundamental tersebut. Bagaimana pria yang akrab disapa Greg ini menjawabnya? Mari simak dalam ulasan berikut:

Awal yang Sangat Sederhana

Greg memulai hidupnya dengan sangat sederhana, sahabat D’Impact. Ia lahir dan besar di desa terpencil di Ende, Nusa Tenggara Timur. Ayahnya adalah seorang guru, sementara ibunya petani kecil.

Tak banyak opsi yang bisa diambil untuk memperbaiki kehidupan dan mengembangkan diri di kampung halamannya, kala itu, baik dalam hal perekonomian maupun pendidikan. Karenanya, Greg memutuskan memberanikan diri merantau.

Hijrah ke Kota

Usai lulus SMA di Ende pada tahun 1994, Greg memutuskan untuk hijrah ke Tangerang, Banten.

Hanya berbekal ijazah SMA dan “modal dengkul,” tentu sulit bagi Greg untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang memadai. Alhasil, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia harus bekerja ekstra keras sebagai tukang las di pabrik sepeda.

“Karena upah yang saya terima saat itu sedikit, dikisaran 3.600 rupiah sehari, saya terpaksa lembur, bekerja lebih keras dan lebih banyak dari karyawan lainnya. Dengan upah yang saya terima, saya sisihkan untuk bekal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ungkapnya, pertengahan April 2025.

Setelah perjuangan gigih dan tanpa henti, cita-cita laki-laki yang bertubuh besar ini pun akhirnya kesampaian, Sahabat D’impact.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *