Mensejahterakan Masyarakat

Sahabat D’Impact, berbagi dalam kelebihan baik adanya, dan dapat menimbulkan kepuasan tersendiri. Namun, bagaimana jika seseorang yang ingin berbagi sedang berada dalam kekurangan terkait satu atau lain hal? Apakah orang tersebut dapat tetap berkontribusi dalam mensejahterakan Masyarakat di sekitarnya?

Wiki Erdianto, seorang pemuda asal Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, merasa bahwa hal ini sangat mungkin dan tak kalah fulfilling.

Bagaimana cara mahasiswa berusia 24 tahun ini berkontribusi dalam usaha mensejahterakan Masyarakat sekitar dalam keterbatasannya? Mari Simak dalam artikel berikut:

Bersahaja Bukan Berarti Tidak Bisa

Wiki terlahir anak kedua dari 4 bersaudara dalam keluarga yang sangat bersahaja. Mereka sempat merantau di Jakarta selama beberapa tahun semasa kecilnya hingga ia beranjak remaja. Di sana, ayahnya mengadu Nasib sebagai pekerja lapak pemulung.

Meskipun terbatas secara ekonomi, Wiki beserta adik-adiknya tekun belajar dan berkegiatan di sebuah balai pembelajaran gratis yang dikelola seorang pemerhati. Saat menapaki pembelajaran tingkat sekolah menengah atas, ia bahkan diberikan kepercayaan menjadi asisten pengajar bagi adik-adik kelasnya di sekolah dasar.

Sayangnya, ia tak sempat menamatkan SMA sebelum orangtuanya membawa keluarga mereka Kembali ke Banjarnegara. Keadaan perekonomian mereka pun tak jauh berbeda. Kini, ayahnya bekerja sebagai seorang pekerja konstruksi.

Namun, hal ini tak menyurutkan tekad Wiki untuk belajar, memperbaiki diri dan berbagi, sahabat D’Impact.

Tergugah Menolong

Wiki mengikuti program Kejar Paket C untuk menamatkan pendidikan menengah atas. Sementara itu, berbekal ilmu yang sudah dimilikinya ditambah pengalamannya menjadi asisten pengajar, ia memberikan pelajaran tambahan kepada sejumlah tetangganya yang sedang duduk di bangku SD.

Keresahan serta kesulitan orangtua murid menyoal pembelajaran online anak mereka semasa pandemi Covid-19 adalah hal yang mengawali pekerjaan ini.

“Anak-anak mereka malas belajar, mainan HP terus,” Wiki menyampaikan kepada tim D’Impact. “Kalau belajar juga harus berantem dulu sama orang tuanya. Stres katanya. Apalagi anaknya tidak mengerti saat orang tua menjelaskan.”

Lebih lanjut, ia mengakui, “Ada salah satu orang tua anak yang menginginkan saya agar anaknya cepat pintar, padahal hal itu tergantung anaknya, ada yang cepat dan ada yang lambat dalam memahami materi. Ketika saya jelaskan kepadanya, beliau agak kurang setuju, tapi saya tetap mengajari anaknya perlahan sesuai kemampuan sang anak. Karena sang anak lah yang sedang berjalan bukan orang tuanya.”

Tergugah oleh pendapat orangtua murid tersebut dan mendapati bahwa anak-anak binaannya bersemangat, tak seperti kleim orangtua mereka, Wiki pun ingin tahu. Ia lantas bertanya kepada murid-muridnya.

“Mereka menjawab, ‘Kalau belajar sama Mama, Mama saya bingung, jadi nggak bisa ngajarin. Jadi males belajar, mending HP-an,’” ungkapnya mengenang. “Ada pula yang menjawab, ‘Kakak saya galak, saya males belajarnya. Diomelin Mulu kalau saya nggak ngerti.’”

Permasalahan ini mendorong Wiki untuk membantu kedua belah pihak. Bahkan, kegiatan tutorial yang berjalan sejak Januari 2021 ini mulanya tidak berbayar, sahabat D’Impact!

Saling Berbagi dalam Kekurangan, Mensejahterakan Masyarakat Bersama

“Saya berlandaskan keikhlasan dalam mengajar mereka. Saya mau mengajari mereka karena saya merasa senang bisa membantu orang lain. Untuk mengisi waktu luang saya juga,” ujar pemuda yang gemar menulis serta bermain sepakbola ini, lantas menambahkan, “Mengajar bukan hobi saya, tapi saya merasa senang ketika mengajar. Saya mengajari semua pelajaran kecuali bahasa Jawa, karena saya tidak bisa bahasa Jawa Honocoroko.”

Namun, tetap saja, banyak dari orangtua murid-murid Wiki, lega dan senang bahwa anak mereka terbantu, memberikan “upah lelah” kepadanya. Besarannya bervariasi dan semampu para orangtua, mulai dari Rp25.000 sampai Rp100.000 rupiah per bulan.

“Saya sempat ingin menolak pemberian-pemberian itu karena saya takut nanti saya malah mengajar mereka demi uang bukan karena keikhlasan,” ia menuturkan. “Tapi karena mereka memaksa ya sudah saya terima demi menghargai mereka.”

Setelah berjalan beberapa lama, para orangtua sepakat di antara mereka sendiri untuk menstandarkan biaya Pelajaran tambahan bagi anak-anak mereka. “Jadi nggak ada iri-irian,” ujar Wiki sambil tertawa. “Sekarang standarnya 200 ribu per anak untuk yang dekat dengan rumah, dan 300 ribu per anak untuk yang jauh dari rumah.”

Standardisasi ini tak berjalan mulus pada kenyataannya, sahabat D’Impact. Meskipun demikian, Wiki menanggapinya dengan besar hati.

“Ada yang telat bayar sampai 3 bulan atau 4 bulan pun saya tidak apa-apa,” ia bercerita. “Kadang setelah 4 bulan, kemudian baru bayar untuk 1 bulan, ya saya terima. Pernah ada yang tidak bayar 4 bulan terus nggak dibayar, lalu meminta untuk berhenti les, tapi saya tidak dibayar, ya tidak apa-apa. Saya ikhlaskan untuk bekal di akhirat aja.”

Mantap, ya, sahabat D’Impact? Namun, tak sampai di sini saja, Wiki juga terus berusaha membantu mensejahterakan Masyarakat dengan cara-cara lain.

Seperti apa cara-cara tersebut? Mari Simak di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *