
Sahabat D’Impact, bagaimana rasanya ketika mengunjungi pameran yang relevan dan bahkan disukai? Pasti senang, bukan? Nah, kali ini saya dan rekan-rekan setim berusaha memanfaatkan momen pameran internal perusahaan untuk membawa pesan kesetaraan dan inklusi. Harapannya, pesan tersebut dapat tersampaikan dengan menyenangkan, seru dan membekas bagi para pengunjung yang juga rekan-rekan seperusahaan. Seperti apa jadinya? Berikut ulasannya:
Senjata Ampuh untuk Meng-goal-kan Kesetaraan dan Inklusi
Selang seminggu setelah kunjungan saya ke Surabaya, muncul berita bahwa akan ada pameran internal terkait segi-segi dan alur karier karyawan. Booth yang berpartisipasi mewakili setiap bagian kehidupan atau jenjang perjalanan karier seorang karyawan di perusahaan, termasuk inklusi dan keberagaman. Tujuannya, karyawan dapat semakin mengenal hak dan kewajibannya di perusahaan, juga cara menambah ilmu serta wawasan, dengan seru dan menyenangkan.
Pada kenyataannya, tak mudah mencapai tujuan ini, sahabat D’Impact. Tim kami – Inclusion and Diversity (I&D) harus membawa pesan-pesan yang cukup “berat,” terkait kesetaraan dan inklusi, dengan cara yang ringan.
Akhirnya, masing-masing anggota tim berusaha menggagas cara membawakan isu yang selama ini di-handle, termasuk saya yang memegang isu disabilitas. Waktunya hanya beberapa hari, karena setelahnya kami harus mengirimkan 3 permainan dan/atau fitur yang akan ditawarkan booth kami ke panitia.
Di rapat di penghujung masa brainstorming, kami sepakat membawakan kuis kecil-kecilan tentang hal-hal yang diusung tim, agar semua dapat terwakili. Dan, karena jadwal pameran bertepatan dengan acara lain yang gjuga digelar tim, saya diminta untuk menjaga booth serta membawakan kuis.
Public Speaking Lagi…
“Aduh, public speaking lagi,” saya berpikir kala itu. Namun, demi pengalaman baru dan kesempatan berinteraksi langsung dengan karyawan lain sebagai pekerja disabilitas, saya sanggupi saja tugas ini.
“Toh nanti aku nggak sendiri,” saya pun menghibur diri, mengacu pada janji manajer tim bahwa rekan dari tim lain akan diperbantukan ke booth kami.
Bonusnya, pikir saya lagi, saya bisa memperkenalkan huruf braille juga kepada pengunjung booth dengan cara yang fun. Sebab, rekan-rekan setim berkomentar bahwa cara saya menuliskan pertanyaan kuis dengan huruf braille di majalah bekas sangat unik dan menarik.
Namun, ternyata, tantangan baru sudah menunggu, sehari sebelum pameran digelar.
Perubahan di Menit Terakhir
Rupanya, para pimpinan global perusahaan multinasional ini, yang sedianya bertamu hanya ke acara sebelah, tertarik juga untuk menghadiri pameran. Sontak panitia pontang-panting menyesuaikan acara pembuka, dan kami para penjaga booth pun demikian.
Akhirnya, diputuskan bahwa akan ada tim penyambutan yang terdiri dari perwakilan masing-masing booth, yang menjelaskan isi serta tujuan booth. Saya termasuk anggota tim “pagar ayu” tersebut, dan harus membuat pidato berdurasi semenit dalam bahasa Inggris untuk mewakili booth kami.
“Wah, bagaimana caranya membawa isu kesetaraan dan inklusi dalam waktu semenit?” saya panik. Terlebih lagi, saya memang terbiasa menulis dalam bahasa Inggris, tetapi cukup jarang menuturkannya, apalagi dalam public speaking seperti ini. “Bisa gawat kalau aku sampai gelagapan,” pikir saya waktu itu.
Namun, untungnya, rekan-rekan setim maupun dari tim lain membantu dalam brainstorming dan memberi semangat. Manajer tim pun mengingatkan bahwa saya tak akan sendirian ketika harus memperkenalkan tim I&D kepada para tamu internasional. Beliau juga mengingatkan bahwa kesempatan ini bisa saya gunakan untuk “menual” kesetaraan dan inklusi disabilitas di lingkungan kerja kepada mereka.
Kesan Baik yang Sangat Membekas
Mengingat usulan tersebut, juga karena para tamu internasional akan berkunjung ke setiap booth, saya berinisiatif memajang laptop saya di booth. Laptop tersebut laptop kantor yang saya pakai untuk pekerjaan sehari-hari, dan sudah dilengkapi dengan aplikasi pembaca layar untuk tunanetra. “Pas mereka kemari, kudemokan cara pakainya,” jelas saya pada manajer tim dan rekan-rekan setim ketika saya mengusulkan hal ini, usai geladi resik sehari sebelum pameran.
Di hari-H, barulah saya tersadar bahwa ini berarti saya harus menjadi pusat perhatian lagi, di luar tugas-tugas yang sudah ada. Untungnya, meski minim persiapan, semua berjalan lancar. Para pengunjung, baik yang internasional maupun yang lokal, bahkan sangat antusias mencari tahu bagaimana saya bekerja sebagai seorang tunanetra. Kecanggungan yang mungkin muncul dalam interaksi dengan saya pun tersapu oleh keseruan acara dan semua engagement yang ditawarkan di dalamnya.
Selama persiapan dan jalannya pameran, saya diperlakukan layaknya karyawan lain dalam hal interaksi serta tugas. Dan, bagi saya, ini merupakan salah satu bukti dari kesetaraan dan inklusi disabilitas di perusahaan ini, yang perlahan mulai terbentuk.
Semua pengalaman serta insight ini sangat membantu ketika saya ditugaskan membuat kampanye perihal kesetaraan dan inklusi disabilitas, beberapa bulan kemudian. Sahabat D’Impact, mari ikuti perjalanan saya melalui kampanye tersebut di artikel selanjutnya!